oleh

Grafik Bidik Misi Meningkat, IAIN Ternate Kembali Menerima Beasiswa

LENTERA.CO.ID – Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Ternate menerima beasiswa secara keseluruhan, diantaranya beasiswa kajian Keislaman, Bidikmisi, Peningkatan Prestasi, Tahfidz. Selain itu, IAN juga dapat beasiswa dari bank indonesia (BI). Demikian itu disampaikan wakil rektor (Warek) III IAIN, Dr.Adnan Mahmud di ruang kerjanya pada Kamis, 10 Januari 2019.

BACA JUGA Dana Bos: Pelaporan Terlambat, Pencairan Terhambat

Adnan mengatakan, dari sekian total beasiswa tersebut, nominalnya berbeda. Misalnya, untuk Tahfidz diberi kuota dari kementerian agama sebanyak 30 orang, peningkatan prestasi 130 orang. “Preatasi itu kita bagi dua sesuai arahan dari kementerian agama, yaitu prestasi akademik dan prestasi non akademik,” katanya.

lanjutannya, karena pertimbangan mahasiswa di lingkungan kementerian agama ini, ada yang berprestasi secara akademik dan berprestasi secara nonakademik dengan membawah nama baik perguruan tinggi.

“Olehnya, mereka juga di beri apresiasi dalam bentuk beasiswa. Tapi nama yang muncul di RKK itu, nama yang menggunakan beasiswa prestasi. Nanti juknisnya diatur dan dijabarkan dalam bentuk beasiswa prestasi akademik dan nonakademik,” terangnya.

Adnan menjelaskan, beasiswa bidik misi untuk 2018, pihaknye diberi kuota 110 orang dan kajian ke islaman 27 orang. Kajian keislaman ini, lanjut dia, maksudnya prodi-prodi yang berbasis ke islaman. Misalnya prodi ekonomi perbankan syariah, pendidikan bahasa arab, ilmu Alquran dan ilmu tafsir. “Jadi penguatan dasar pada kajian-kajian ke islaman itu yang di beri suport oleh kementerian agama,” tutur dia.

Dikatakan, grafik Bidik Misi dari tahun ke tahun mengalami peningkatan.

“Seperti bidik misi on going 2014 ada 19 orang, 2015 ada 100, 2016 naik menjadi 105, 2017 turun satu orang 104 dan 2018 ada 1010.,” ujarnya.

“Saat ini, IAIN belum mengetahui hasil 2019. Mudah mudahan stabil atau tetap. Pihak IAIN sendiri belum dapat RKKLnya. Kami berdoa semoga seperti tahun sebelumnya, minimal standar,” kata Adnan.

Ia berkata, semua beasiswa punya juknis, misalnya bidik misi yang juknisnya secara nasional, standar IPK adalah 3, 00 karena bidik misi itu satu tahun, maka akan dievaluasi. “Misalnya, jika KHS tidak mencukupi 3,00, maka pada semester genap dievaluasi,” tandasnya.

Pengalaman sebelumnya, ada kendala sehingga dari tim beasiswa akan mengadakan rapat mekanisme pergantian standar yang tidak memenuhi itu, apakah per semester atau per tahun untuk memudahkan hal itu karena terkait dengan juknis maka kita juga harus mengikutinya. “Karena itu merupakan panduan berbagai beasiswa,” ungkap Adnan

Menurutnya, mahasiswa yang bermasalah soal bidik misi akan diberikan pemberitahuan di BAK masing-masing dengan melihat siapa saja yang saat itu memasukan permohonan dengan memperolah beasiswa bidik misi. Dari situ akan dirangking per prodi karena per prodi ada kuota. Misalnya prodi perbankan syariah kuotanya 5 untuk tahun 2018, dari 5 orang itu di tahun berjalan dan diantara sala satunya tidak memenuhi standar IPK 3,00 maka direngking siapa yang akan bergeser naik untuk di ganti.

Meski begitu, Adnan berharap kepada mahasiswa yang memperoleh beasiswa dari berbagai kategori, agar bisa memanfaatkan fasilitas Negara untuk memenuhi kebutuhan mahasiswa. Jangan hegemoni dengan segala hal yang tidak menunjang proses perkuliahan karena saat dievaluasi ternyata ada yang tidak mengunakan untuk pembayaran SPP. Saat ditanya, kata Adnan, alasannya digunakan untuk biaya pengobatan orang tua dan lain sebagainya. “Itu sebabnya dicarikan formulasi yang tepat, yakni setelah melunasi SPP baru di transfer ke rekening masing-masing,” tutupnya.

Red: Hana

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *