oleh

Guru Sumsel Kenalkan RPM Literasi

LENTERA PENDIDIKAN — Menjadi guru itu pilihan, kalimat itu ditemukan maknanya ketika mendapatkan paparan tentang konsep cara berpikir suprarasional selama 4 hari 3 malam di Klinik Pendidikan MIPA (KPM). Berkesempatan mengikuti training Matematika Nalaria Realistik (MNR) dan suprarasional hingga ke Bogor, di tahun 2017, seolah menjadi mimpi yang menjadi kenyataan bagi seorang Adi Saputro dan Haris.

Karena menjadi guru honorer di tengah-tengah hutan sawit di salah satu Kabupaten Oki, Sumatera Selatan, nyaris menghilangkan asa untuk mendapat peluang belajar menambah wawasan dan kompetensi. Jangankan menambah wawasan, untuk bisa pergi ke pulau Jawa atau sekadar pergi ke ibu kota kabupaten saja menjadi suatu kemewahan bagi mereka.

Gayung bersambut, perkenalan yang tak diduga dengan komunitas Forum Relawan Literasi (Formasi) Petir menjadi awal kisah perkenalan dengan KPM hingga akhirnya merintis Rumah Pendidikan MIPA (RPM) Literasi. Forum yang merupakan dampingan Corporate Social Responsibilty salah satu perkebunan sawit (Sampoerna Agro) menjadi wasilah pengabdian baru dengan merintis Rumah Literasi Petir dan juga RPM Literasi Petir bersama rekan-rekan relawan lainnya.

Sebenarnya tak banyak alasan berhimpun dalam Formasi kecuali untuk menjalin silaturahim, berbenah diri, dan mencoba berkontribusi secara bersama-sama untuk benahi kualitas pendidikan di sekitar tempat tinggal. “Berkesempatan mengikuti training MNR & Suprarasional di akhir tahun 2017 terasa begitu spesial dan berkesan,” ujar Adi seperti dalam siaran persnya.

Pelatihan menurutnya menjadi pencerahan jiwa lewat konsep suprarasional, wawasan baru MNR, dan spirit baru bertemu rekan-rekan pendidik lintas pulau nusantara menjadi bekal penting untuk memberanikan diri menunaikan amanah. “Amalkan ilmu MNR dengan mekanisme Sistem Metode Seikhlasnya (SMS),” katanya.

Sempat dipertanyakan dan diragukan oleh beberapa rekan relawan terkait konsep SMS tak menggoyahkan keyakinan Adi untuk mengamalkan amanah ilmu MNR, dan konsep SMS dalam satu paket. Menurutnya ruh tak bisa dipisahkan dengan jasad kecuali sudah mati.

“Begitu pesan Pak Ridwan Hasan Saputra (Presiden Direktur KPM) yang terus terngiang di benak saya. Di akhir 2017, belasan siswa SD/SMP mulai mengikuti kegiatan bimbingan belajar MNR yang menjadi cikal bakal RPM Literasi. Hingga akhirnya, di pertengahan tahun 2018, RPM Literasi mendapat izin operasional dari KPM Bogor,” katanya.

Di tengah ragam keterbatasan dan tantangan yang ada, RPM Literasi telah mengikuti Kompetisi Matematika Nalaria Realistik ke-13 dan ke-14. Diawal mengikuti KMNR 13, RPM Literasi mengirimkan 30 siswa-siswinya. Perjalanan yang tak mudah menuju lokasi KMNR di Palembang yg berjarak lebih dari 100 kilometer.

Bukan saja jaraknya yang cukup jauh, tetapi kondisi puluhan kilometer jalanan yg masih berat untuk dilewati. Kondisi yang memaksa kita melakukan perjalanan dengan berjalan kaki, naik mobil hingga bersampan lewati rawa-rawa.

“Alhamdulillah, seiring meningkatnya kepercayaan komunitas untuk menitipkan sekitar 400 anak-anaknya untuk belajar di RPM Literasi dan akses jalan yang sudah jauh lebih baik, RPM Literasi mengirimkan 102 siswa bimbingan mengikuti KMNR ke-14,” katanya.

Menyadari beragam kekurangan dan keterbatasan yang dimiliki RPM Literasi, fokus saat ini untuk mengikuti ajang KMNR jelas bukan mengejar juara, tetapi membuka wawasan siswa dan mencoba menembus titik batas perjuangan.

“Perjalanan masih panjang untuk terus membumikan MNR dan suprarasional di komunitas kami. Mimpi dan inspirasi untuk menjadi lingkungan pendidikan yang tak hanya sekedar menghasilkan generasi cerdas, tetapi juga hidup lebih bermakna lewat MNR-SMS-Suprarasional di RPM Literasi masih harus terus dihidup-hidupkan dan membutuhkan dukungan bersama,” ujarnya.

Rep: Hana
Sumber: Republika.co.id

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *