oleh

Empat Mahasiswa Korban DO Tidur di Pelataran Rektorat Unkhair

LENTERA PENDIDIKAN — Tekad empat mahasiswa yang kena Drop Out (DO) mencari keadilan tak pernah surut. Mereka kembali datangi rektorat Universitas Khairun (Unkhair) meminta agar rektor Unkhair, Husen Alting cabut SK DO.

Keempatnya duduk di pelataran rektorat beralaskan sepanduk bekas hingga Rabu malam, 29 Januari 2020. Poster-poster tuntutan di baringkan tertulis: “Rektor Unkhair segera cabut SK DO, Kami korban DO sepihak”.

Aksi yang dimulai sejak pukul 10.30 WIT tadi ini lanjutan dari aksi serupa, Selasa, 28 Januari 2020 kemarin yang sempat dibubarkan paksa oleh pihak keamanan kampus.

“Kami akan terus kembali, jika hari ini di bubarkan lagi,” kata Fahyudi Marsaoly, salah seorang mahasiswa yang kena DO.

Mahasiswa Fakultas Teknik ini bilang, dia bersama ketiga temannya akan terus datang mencari keadilan yang dirampas pihak kampus.

“Saya sudah buang biaya kuliah, biaya makan, dan banyak lagi biaya yang saya keluarkan selama tinggal dan kuliah di Ternate,” ujar Yudi sapaan akrabnya.

SelainYudi, Fahrul Abdullah (24) juga menuntut agar dia bisa kembali kuliah. Dia bilang, ayahnya hanya bisa kerja sebagai pembersih makam (kuburan) untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Bila, dia tidak bisa lanjut kuliah, maka tidak ada harapan lagi.

“Bapak sudah tua, tidak bisa kerja berat. Ibu juga demikian,” terang Fahrul, mahasiswa Jurusan Kehutanan di Pertanian Unkhair itu.

Keempatnya ingin bertemu rektor Unkhair untuk membicarakan perihal kasus DO yang dinilai sepihak itu. Namun, hingga pukul 20.00 WIT malam ini, rektor tak juga mengunjungi mereka.

“Kami berencana menginap disini lagi,” tutur Arbi, salah satu dari mereka.

Hingga berita ini di terbitkan, keempat mahasiswa itu masih berada di pelataran kampus, berbaring seadannya tanpa selimut dan tenda.

Sebelumnya, mereka di DO melalui Surat Keputusan Rektor Unkhair nomor: 1860/UN44/KP/2019 yang terbit pada 12 Desember 2019 lalu.

Dalam SK itu, Fahyudi, Arbi, Fahrul dan Ikra S. Alkatiri di DO karena melanggar kode etik mahasiswa dan melakukan tindakan disintegesi bangsa dengan terlibat dalam aksi peringati hari deklarasi kemerdekaan bangsa west Papua di depan kampus Muhammadiyah Maluku Utara, 2 Desember 2019 lalu.

Reporter: Darman
Editor: Ajun

.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *